SOAL JAWAB
ROTIBUL KUBRO NOMOR 7
Pertanyaan:
Lebih baik mana membadalkan haji dengan HAUL tiap tahun ?
Jawab:
Keduanya mempunyai Fadhilah (keutamaan)
I.
BADAL HAJI
1. Shahih Muslim juz I
halaman 464, cetakan Al-Ma’arif Bandung (juz III halaman 156 hadits nomor 2753,
maktabah syamilah)
وَحَدَّثَنِيْ
عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ أَبُو
الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَطَاءٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ
أَبِيْهِ - رَضِىَ اللهُ عَنْهُ - قَالَ بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ
اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنِّيْ
تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّيْ بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ - قَالَ - فَقَالَ «
وَجَبَ أَجْرُكِ وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيْرَاثُ ». قَالَتْ يَا رَسُوْلَ اللهِ
إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَصُوْمُ عَنْهَا قَالَ « صُوْمِيْ
عَنْهَا ».
قَالَتْ إِنَّهَا
لَمْ تَحُجَّ قَطُّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ « حُجِّيْ عَنْهَا ».
Telah bercerita
kepadaku Ali bin Hujrin al-Sa’dy, telah bercerita kepadaku Ali bin Mushir Abu
al-Hasan dari Abdullah bin Atho’ dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya
-radhiyallaahu ‘anhu -. beliau berkata: suatu hari aku duduk disamping Nabi
shallallaahu ‘alaihi wasallam . kemudian ada seorang perempuan datang kepada
Nabi dan ia berkata; sebenarnya aku bersedekah untuk ibuku dengan seorang
hamba, sedangkan ibuku telah meninggal. Maka Nabi bersabda: Pahalanya tetap
bagimu dan harta warisannya tetap kembali kepadanu. Perempuan itu berkata lagi,
Ya Rasulallah, sesungguhnya ibuku mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, bolehkan
aku puasa untuknya?. Rasulullah menjawab: Berpuasalah untuk ibumu.
Kemudian perempuan
itu bertanya lagi sebenarnya ibuku belum melaksanakan ibadah haji, bolehkan aku
melakukan haji untuknya? Rasulullah menjawab: Berhajilah untuk ibumu
2. Syarah Mahalli ‘alal Minhaaj (Qalyubi 5/478, maktabah syamilah)
فَلَوْ لَمْ يَكُنْ
لَهُ تَرِكَةٌ اُسْتُحِبَّ لِوَارِثِهِ أَنْ يَحُجَّ عَنْهُ
Jika si mayit tidak mempunyai
tirkah, maka bagi ahli warisnya disunnahkan menghajikannya
II.
HAUL
1.Maghaazi al
Waaqidi juz I halaman 312, maktabah syamilah:
وَقَدْ كَانَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُوْرُهُمْ فِيْ كُلِّ حَوْلٍ
وَإِذَا تَفَوَّهَ الشِّعْبَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: " اَلسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ "
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi
wasallam mengunjungi makam para pahlawan Uhud setiap tahun. Jika telah sampai
di Syi’ib ( tempat makam mereka ), beliau agar keras berucap : Assalamu
‘alaikkum bima shabartum fani’ma ‘uqbaddaar (semoga kalian selalu beroleh
kesejahteraan atas kesabaran yang telah kalian lakukan. Sungguh, akhirat tempat
yang paling nikmat)
Catatan:
Riwayat diatas dikutip juga oleh al hafzih Ibn Katsier dalam Assiirah Annabawiyyah juz III halaman 389
http://islamport.com/d/1/ser/1/7/106.html
Riwayat diatas dikutip juga oleh al hafzih Ibn Katsier dalam Assiirah Annabawiyyah juz III halaman 389
http://islamport.com/d/1/ser/1/7/106.html
2. Nihaayatuzzain karya Syeikh Nawawi halaman
281:
وَالتَّصَدُّقُ
عَنِ الْمَيِّتِ بِوَجْهٍ شَرْعِيٍّ مَطْلُوْبٌ وَلَا يَتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ فِيْ
سَبْعَةِ أَيَّامٍ أَوْ أَكْثَرَ أَوْ أَقَلَّ وَتَقْيِـِيْدُهُ بِبَعْضِ
الْأَيَّامِ مِنَ الْعَوَائِدِ فَقَطْ كَمَا أَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدُ أَحْمَدُ
دَحْلَانُ ، وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ الْمَيِّتِ فِيْ
ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِيْ سَابِعٍ وَفِيْ تَمَامِ الْعِشْرِيْنَ وَفِي
الْأَرْبَعِيْنَ وَفِي الْمِائَةِ، وَبَعْدَ ذَلِكَ يُفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلاً
فِيْ يَوْمِ الْمَوْتِ كَمَا أَفَادَهُ شَيْخُنَا يُوْسُفُ السَّنْبَلَاوَيْنِيُّ
Sedekah untuk mayit dengan tuntunan syara'
adalah dianjurkan. Sedekah tersebut tidak terikat dengan hari ketujuh atau
lebih atau kurang. Adapun mengaitkan sedekah dengan sebagian hari adalah
merupakan bagian dari adat saja, sebagaimana apa yang difatwakan oleh Sayyid
Ahmad Dahlan. Dan telah berjalan kebiasaan diantara orang-orang yaitu
bersedekah untuk mayit pada hari ketiga dari kematiannya dan pada hari ketujuh,
dan pada sempurnanya kedua puluh, ke empat puluh dan ke seratus. Setelah itu
dilaksanakanlah haul setiap tahun pada hari kematiannya, sebagaimana yang
dijelaskan oleh Syeikh Yusuf as Sanbalawaini.
3. AHKAMUL
FUQAHA FII MUQARRARAATI MU`TAMARAATI NAHDLATIL ULAMA
SOLUSI Problematika Aktual Hukum Islam
Keputusan Muktamar, Munas dan Konbes nahdlatul Ulama
(1926-2010)
SOLUSI Problematika Aktual Hukum Islam
Keputusan Muktamar, Munas dan Konbes nahdlatul Ulama
(1926-2010)
Halaman 326
303. Haul (Peringatan Wafat Ulama Besar)
Soal:
Apakah keputusan Kongres ke-2 Jam'iyah Tariqot Mu'tabaroh tentang peringatan wafat (haul) itu termasuk mengikuti sunnah Rasulullah dan Khulafaurrasyidin ?
Apakah keputus tersebut benar ataukah tidak?
Jawab:
Sambil membenarkan keputusan tersebut, maka kebiasaan peringatan wafat (haul) yang berlaku itu mengandung tiga persoalan:
(a) Mengadakan ziarah kubur dan tahlil
(b) Mengadakan hidangan makanan dengan niat sodaqoh dari almarhum
Kedua persoalan ini sudah jelas TIDAK TERLARANG.
(c) Mengadakan bacaan al-Qur'an dan nasehat agama. Kadang-kadang diadakan penerangan tentang sejarah orang yang diperingati untuk dijadikan suri tauladan
Keterangan dari
kitab:
1. Al Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah (Mesir, al-Maktabah al-Islamiyyah) , Ibn Hajar al Haitami, juz II halaman 18
1. Al Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah (Mesir, al-Maktabah al-Islamiyyah) , Ibn Hajar al Haitami, juz II halaman 18
وَيَحْرُمُ النَّدْبُ مَعَ اْلبُكَاءِ كَمَا حَكَاهُ فِي اْلأَذْكَارِ وَجَزَمَ بِهِ فِي الْمَجْمُوْعِ وَصَوَّبَهُ اْلاَسْنَوِيُّ
-اِلَى
اَنْ قَالَ-
وَيُؤَيِّدُهُ
قَوْلُ ابْنِ عَبْدِ السَّلَامِ إِنَّ بَعْضَ الْمَرَاثِيْ حَرَامٌ كَالنَّوْحِ
لِمَا فِيْهِ مِنَ التَّبَرُّمِ بِالْقَضَاءِ اِلَّا إِذَا ذُكِرَ مَنَاقِبُ
عَالِمٍ وَرَعٍ اَوْ صَالِحٍ لِلْحَثِّ عَلَى سُلُوْكِ طَرِيْقَتِهِ وَحُسْنِ
الظَّنِّ بِهِ بَلْ هِيَ حِيْنَئِذٍ بِالطَّاعَةِ أَشْبَهُ لِمَا يَنْشَأُ عَنْهَا
مِنَ اْلبِرِّ وَالْخَيْرِ وَمِنْ ثَمَّ مَازَالَ كَثِيْرٌ مِنَ الصَّحَابَةِ
وَغَيْرِهِمْ مِنَ اْلعُلَمَاءِ يَفْعَلُوْنَهَا عَلَى مَمَرِّ اْلأَعْصَارِ مِنْ
غَيْرِ اِنْكَارٍ
Dan haram meratapi orang mati dengan tangisan seperti penuturan Imam Nawawi dalam kitab
al-Adzkar dan beliau mantap pula dengan hukum tersebut dalam kitab
al-Majmu’,dan dibenarkan al-Asnawi.
…………
Hukum haram tersebut diperkuat
pendapat Ibn Abdissalam: Sungguh sebagian ratapan itu haram, seperti meratapi
(dengan tangisan) karena berarti tidak rela dengan taqdir Allah SWT kecuali
bila disebutkan MANAQIB (sejarah hidup)
orang alim yang wira’i atau yang saleh untuk mendorong orang mengikuti
pola hidupnya dan berbaik sangka
kepadanya. Bahkan dalam konteks tersebut meratapi mayit lebih menyerupai amal
ketaatan karena kebaikan yang muncul darinya. Oleh sebab itu banyak shahabat
Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan ulama selainnya selalu melakukannya
sepanjang masa tanpa ada yang mengingkari
Wallaahu A’lam
