Minggu, 17 Maret 2013

BADAL HAJI & HAUL


SOAL JAWAB ROTIBUL KUBRO NOMOR 7

Pertanyaan:
Lebih baik mana membadalkan haji dengan HAUL tiap tahun ?

Jawab:
Keduanya mempunyai Fadhilah (keutamaan)

I. BADAL HAJI
1. Shahih Muslim juz I halaman 464, cetakan Al-Ma’arif Bandung (juz III halaman 156 hadits nomor 2753, maktabah syamilah)
وَحَدَّثَنِيْ عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ أَبُو الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَطَاءٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيْهِ - رَضِىَ اللهُ عَنْهُ - قَالَ بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنِّيْ تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّيْ بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ - قَالَ - فَقَالَ « وَجَبَ أَجْرُكِ وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيْرَاثُ ». قَالَتْ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَصُوْمُ عَنْهَا قَالَ « صُوْمِيْ عَنْهَا ».
قَالَتْ إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطُّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ « حُجِّيْ عَنْهَا ».

 Telah bercerita kepadaku Ali bin Hujrin al-Sa’dy, telah bercerita kepadaku Ali bin Mushir Abu al-Hasan dari Abdullah bin Atho’ dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya -radhiyallaahu ‘anhu -. beliau berkata: suatu hari aku duduk disamping Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam . kemudian ada seorang perempuan datang kepada Nabi dan ia berkata; sebenarnya aku bersedekah untuk ibuku dengan seorang hamba, sedangkan ibuku telah meninggal. Maka Nabi bersabda: Pahalanya tetap bagimu dan harta warisannya tetap kembali kepadanu. Perempuan itu berkata lagi, Ya Rasulallah, sesungguhnya ibuku mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, bolehkan aku puasa untuknya?. Rasulullah  menjawab: Berpuasalah untuk ibumu.
 Kemudian perempuan itu bertanya lagi sebenarnya ibuku belum melaksanakan ibadah haji, bolehkan aku melakukan haji untuknya? Rasulullah  menjawab: Berhajilah untuk ibumu

2. Syarah Mahalli ‘alal Minhaaj (Qalyubi 5/478, maktabah syamilah)
فَلَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ تَرِكَةٌ اُسْتُحِبَّ لِوَارِثِهِ أَنْ يَحُجَّ عَنْهُ
Jika si mayit tidak mempunyai tirkah, maka bagi ahli warisnya disunnahkan menghajikannya


II. HAUL
1.Maghaazi al Waaqidi juz I halaman 312, maktabah syamilah:
 وَقَدْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُوْرُهُمْ فِيْ كُلِّ حَوْلٍ وَإِذَا تَفَوَّهَ الشِّعْبَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: " اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ "

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengunjungi makam para pahlawan Uhud setiap tahun. Jika telah sampai di Syi’ib ( tempat makam mereka ), beliau agar keras berucap : Assalamu ‘alaikkum bima shabartum fani’ma ‘uqbaddaar (semoga kalian selalu beroleh kesejahteraan atas kesabaran yang telah kalian lakukan. Sungguh, akhirat tempat yang paling nikmat)

Catatan:
Riwayat diatas dikutip juga oleh al hafzih Ibn Katsier dalam Assiirah Annabawiyyah juz III halaman 389
http://islamport.com/d/1/ser/1/7/106.html

2. Nihaayatuzzain karya Syeikh Nawawi halaman 281:
وَالتَّصَدُّقُ عَنِ الْمَيِّتِ بِوَجْهٍ شَرْعِيٍّ مَطْلُوْبٌ وَلَا يَتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ فِيْ سَبْعَةِ أَيَّامٍ أَوْ أَكْثَرَ أَوْ أَقَلَّ وَتَقْيِـِيْدُهُ بِبَعْضِ الْأَيَّامِ مِنَ الْعَوَائِدِ فَقَطْ كَمَا أَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدُ أَحْمَدُ دَحْلَانُ ، وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ الْمَيِّتِ فِيْ ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِيْ سَابِعٍ وَفِيْ تَمَامِ الْعِشْرِيْنَ وَفِي الْأَرْبَعِيْنَ وَفِي الْمِائَةِ، وَبَعْدَ ذَلِكَ يُفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلاً فِيْ يَوْمِ الْمَوْتِ كَمَا أَفَادَهُ شَيْخُنَا يُوْسُفُ السَّنْبَلَاوَيْنِيُّ


Sedekah untuk mayit dengan tuntunan syara' adalah dianjurkan. Sedekah tersebut tidak terikat dengan hari ketujuh atau lebih atau kurang. Adapun mengaitkan sedekah dengan sebagian hari adalah merupakan bagian dari adat saja, sebagaimana apa yang difatwakan oleh Sayyid Ahmad Dahlan. Dan telah berjalan kebiasaan diantara orang-orang yaitu bersedekah untuk mayit pada hari ketiga dari kematiannya dan pada hari ketujuh, dan pada sempurnanya kedua puluh, ke empat puluh dan ke seratus. Setelah itu dilaksanakanlah haul setiap tahun pada hari kematiannya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Yusuf as Sanbalawaini.



3. AHKAMUL FUQAHA FII MUQARRARAATI MU`TAMARAATI NAHDLATIL ULAMA
SOLUSI Problematika Aktual Hukum Islam
Keputusan Muktamar, Munas   dan Konbes nahdlatul Ulama
(1926-2010)
Halaman 326


303. Haul (Peringatan Wafat Ulama Besar)

Soal:

Apakah keputusan Kongres ke-2 Jam'iyah Tariqot Mu'tabaroh tentang peringatan wafat (haul) itu termasuk mengikuti sunnah Rasulullah dan Khulafaurrasyidin ?
Apakah keputus tersebut benar ataukah tidak?

Jawab:
Sambil membenarkan keputusan tersebut, maka kebiasaan peringatan wafat (haul) yang berlaku itu mengandung tiga persoalan:

(a) Mengadakan ziarah kubur dan tahlil
(b) Mengadakan hidangan makanan dengan niat sodaqoh dari almarhum
Kedua persoalan ini sudah jelas TIDAK TERLARANG.

(c) Mengadakan bacaan al-Qur'an dan nasehat agama. Kadang-kadang diadakan penerangan tentang sejarah orang yang diperingati untuk dijadikan suri tauladan

Keterangan dari kitab:
1. Al Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah (Mesir, al-Maktabah al-Islamiyyah) , Ibn Hajar al Haitami, juz II halaman 18

وَيَحْرُمُ النَّدْبُ مَعَ اْلبُكَاءِ كَمَا حَكَاهُ فِي اْلأَذْكَارِ وَجَزَمَ بِهِ فِي الْمَجْمُوْعِ وَصَوَّبَهُ اْلاَسْنَوِيُّ
-اِلَى اَنْ قَالَ-
وَيُؤَيِّدُهُ قَوْلُ ابْنِ عَبْدِ السَّلَامِ إِنَّ بَعْضَ الْمَرَاثِيْ حَرَامٌ كَالنَّوْحِ لِمَا فِيْهِ مِنَ التَّبَرُّمِ بِالْقَضَاءِ اِلَّا إِذَا ذُكِرَ مَنَاقِبُ عَالِمٍ وَرَعٍ اَوْ صَالِحٍ لِلْحَثِّ عَلَى سُلُوْكِ طَرِيْقَتِهِ وَحُسْنِ الظَّنِّ بِهِ بَلْ هِيَ حِيْنَئِذٍ بِالطَّاعَةِ أَشْبَهُ لِمَا يَنْشَأُ عَنْهَا مِنَ اْلبِرِّ وَالْخَيْرِ وَمِنْ ثَمَّ مَازَالَ كَثِيْرٌ مِنَ الصَّحَابَةِ وَغَيْرِهِمْ مِنَ اْلعُلَمَاءِ يَفْعَلُوْنَهَا عَلَى مَمَرِّ اْلأَعْصَارِ مِنْ غَيْرِ اِنْكَارٍ

Dan haram meratapi orang mati  dengan tangisan  seperti penuturan Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar dan beliau mantap pula dengan hukum tersebut dalam kitab al-Majmu’,dan dibenarkan  al-Asnawi.
…………
Hukum haram tersebut diperkuat pendapat Ibn Abdissalam: Sungguh sebagian ratapan itu haram, seperti meratapi (dengan tangisan) karena berarti tidak rela dengan taqdir Allah SWT kecuali bila disebutkan MANAQIB (sejarah hidup)  orang alim yang wira’i atau yang saleh untuk mendorong orang mengikuti pola hidupnya  dan berbaik sangka kepadanya. Bahkan dalam konteks tersebut meratapi mayit lebih menyerupai amal ketaatan karena kebaikan yang muncul darinya. Oleh sebab itu banyak shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan ulama selainnya selalu melakukannya sepanjang masa tanpa ada yang mengingkari

Wallaahu A’lam