Sabtu, 27 April 2013

SOAL JAWAB ROTIBUL KUBRO NOMOR 8 (bagian kedua)



Pertanyaan:
Bagaimana agar supaya bisa hidup rukun dengan tetangga / lingkungan ?
Apa ada kiat-kiatnya atau doanya ?


Jawab:

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Kitab Musnadnya juz I halaman 223, hadits nomor 1661

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِيْ أَبِيْ ثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ ثَنَا ابْنُ لَهِيْعَةَ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَبِيْ جَعْفَرٍ أَنَّ ابْنَ قَارِظٍ أَخْبَرَهُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيْلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
تَعْلِيْقُ شُعَيْبِ الْأَرْنَؤُوْطِ : حَسَنٌ لِغَيْرِهِ وَهَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيْفٌ لِضُعْفِ ابْنِ لَهِيْعَةَ

Telah menceritakan kami Abdullah, telah menceritakan saya bapakku, telah menceritakan kami Yahya bin Ishaq, telah menceritakan kami Ibnu Lahi’ah, dari Ubaidillah bin Abu Ja’far, sesungguhnya Ibnu Qaridh mengkabarkan kepadanya dari shahabat Abdurrahman bin Auf, beliau berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Jika seorang wanita menjaga
shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta menjaga kemaluannya dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.”



Wallaahu A'lam


Sabtu, 06 April 2013

SOAL JAWAB ROTIBUL KUBRO NOMOR 8 (bagian pertama)




Pertanyaan:
Bagaimana agar supaya bisa hidup rukun dengan tetangga / lingkungan ?
Apa ada kiat-kiatnya atau doanya ?

Jawab:

Imam Muslim meriwayatkan hadits dalam kitab Shahihnya, juz IV halaman 178, hadits nomor 3721

وَحَدَّثَنِيْ إِبْرَاهِيْمُ بْنُ مُوْسَى الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا عِيْسَى - يَعْنِيْ ابْنَ يُوْنُسَ - حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيْدِ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ أَبِيْ أَنَسٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ أَوْ قَالَ : غَيْرَهُ
 
Telah menceritakan saya Ibrahim bin Musa Ar-Razi, telah menceritakan kami Isa –yakni bin Yunus – telah menceritakan kami Abdul Hamid bin Ja’far, dari Imran bin Abu Anas, dari Umar bin Al-Hakam, dari Abu Hurairah, beliau berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorang mukmin benci kepada seorang mukminah, sebab jika benci kepada salah satu perangai maka akan rela dengan akhlak yang lain atau beliau bersabda yang lainnya.”


Imam Nawawi menulis dalam syarahnya, juz V halaman 209, maktabah syamilah:
.....أَنَّهُ نَهْيٌ أَيْ يَنْبَغِيْ أَنْ لَا يُبْغِضَهَا ، لِأَنَّهُ إِنْ وَجَدَ فِيْهَا خُلُقًا يُكْرَهُ وَجَدَ فِيْهَا خُلُقًا مَرْضِيًّا بِأَنْ تَكُوْنَ شَرِسَةَ الْخُلُقِ لَكِنَّهَا دَيِّنَةً أَوْ جَمِيْلَةً أَوْ عَفِيْفَةً أَوْ رَفِيْقَةً بِهِ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ

..... itu adalah larangan, maksudnya seyogyanya laki-laki mukmin untuk tidak membenci wanita mukminah, karena ketika dia menemukan akhlak yang buruk pada dirinya yang ia benci, maka dia menemukan (juga) pada dirinya akhlak yang dia ridhai. Misalnya: si wanita tsb buruk akhlaknya, akan tetapi dia beragama, atau dia wanita yang elok, atau dia wanita yang bisa menjaga diri, atau dia wanita yang sayang kepadanya dsb.

Wallaahu A’lam