SOAL JAWAB
ROTIBUL KUBRO NOMOR 6
Pertanyaan:
Apakah kalau orang tua
tidak mampu sudah meninggal terus anaknya mampu, apakah berkewajiban
membadalkan haji ?
Jawab:
Tidak wajib. Karena orang tua tersebut belum berkewajib haji.
Tidak wajib. Karena orang tua tersebut belum berkewajib haji.
Namun
jika dia membadalkan haji untuk orang tuanya maka itu lebih utama.
Sumber Pengambilan:
1. Shahih Muslim juz I halaman 464, cetakan Al-Ma’arif Bandung (juz III halaman 156 hadits nomor 2753, maktabah syamilah)
وَحَدَّثَنِيْ عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ
السَّعْدِيُّ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ أَبُو الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللهِ
بْنِ عَطَاءٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيْهِ - رَضِىَ اللهُ عَنْهُ
- قَالَ بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-
إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنِّيْ تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّيْ بِجَارِيَةٍ
وَإِنَّهَا مَاتَتْ - قَالَ - فَقَالَ « وَجَبَ أَجْرُكِ وَرَدَّهَا عَلَيْكِ
الْمِيْرَاثُ ». قَالَتْ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ
شَهْرٍ أَفَأَصُوْمُ عَنْهَا قَالَ « صُوْمِيْ عَنْهَا ».
قَالَتْ إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ
قَطُّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ « حُجِّيْ عَنْهَا ».
Telah bercerita kepadaku
Ali bin Hujrin al-Sa’dy, telah bercerita kepadaku Ali bin Mushir Abu al-Hasan
dari Abdullah bin Atho’ dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya -radhiyallaahu
‘anhu -. beliau berkata: suatu hari aku duduk disamping Nabi shallallaahu
‘alaihi wasallam . kemudian ada seorang perempuan datang kepada Nabi dan ia
berkata; sebenarnya aku bersedekah untuk ibuku dengan seorang hamba, sedangkan
ibuku telah meninggal. Maka Nabi bersabda: Pahalanya tetap bagimu dan harta
warisannya tetap kembali kepadanu. Perempuan itu berkata lagi, Ya Rasulallah,
sesungguhnya ibuku mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, bolehkan aku puasa
untuknya?. Rasulullah menjawab: Berpuasalah
untuk ibumu.
Kemudian perempuan itu
bertanya lagi sebenarnya ibuku belum melaksanakan ibadah haji, bolehkan aku
melakukan haji untuknya? Rasulullah menjawab: Berhajilah untuk ibumu
2. Syarah Muslim, Imam Nawawi, juz VIII halaman 27
وَالْجُمْهُوْرُ عَلَى أَنَّ النِّيَابَةَ فِي الْحَجِّ جَائِزَةٌ عَنِ الْمَيِّتِ
Utawi ulama Jumhur iku berpendapat ingatase setuhune angganti ingdalem haji iku wenang saking mayyit
Link Syarah Muslim:
http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=3252&idto=3257&bk_no=53&ID=496
3. Syarah Mahalli ‘alal Minhaaj juz II
halaman 90, cetakan Musthafa al-Baabi Al-Halabi, tahun 1340 H (Qalyubi 5/478,
maktabah syamilah)
( النَّوْعُ الثَّانِيْ اسْتِطَاعَةُ تَحْصِيْلِهِ
بِغَيْرِهِ فَمَنْ مَاتَ وَفِيْ ذِمَّتِهِ حَجٌّ وَجَبَ الْإِحْجَاجُ عَنْهُ مِنْ
تَرِكَتِهِ ) كَمَا تُقْضَى مِنْهَا دُيُوْنُهُ ، فَلَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ
تَرِكَةٌ اُسْتُحِبَّ لِوَارِثِهِ أَنْ يَحُجَّ عَنْهُ
Utawi werno kaping pindo
iku kuoso ngasilake haji saking liyane. Mongko sopo wonge mati lan iku ingdalem
tanggungane utawi kewajiban haji, mongko wajib opo menghajikan wong iku saking tirkahe.
Mongko lamun ora ono iku kaduwe deweke opo tirkah mongko disunnahake tumerap ahli waritse utawi yentho menghajikan kanggo wong iku
Mongko lamun ora ono iku kaduwe deweke opo tirkah mongko disunnahake tumerap ahli waritse utawi yentho menghajikan kanggo wong iku
Wallaahu
A’lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar